Featured Post 1 with Small Thumbnail
Featured Post 2 with Small Thumbnail
Featured Post 3 with Small Thumbnail
Featured Post 4 with Small Thumbnail
Title Featured Post 1
Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros...More
Title Featured Post 2
Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam...More
Title Featured Post 3
Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros...More
Title Featured Post 4
Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam...More
Jumat, 28 Desember 2018
Kamis, 27 Desember 2018
Perbaiki Hatimu Jangan Menjadi Orang Munafik Tanpa Sadar
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang apa itu nifak dan apa itu munafik.
Nifak atau pelakunya disebut munafik merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya. Jika tidak ditangani sesegera mungkin akan mengakibatkan penderitanya binasa. Penyakit ini adalah penyakit yang amat menjijikkan dan mengakibatkan penyimpangan yang amat buruk. Seorang muslim sejati tentu sangat mewaspadai penyakit akut ini, hanya saja terkadang ia tidak menyadari bahwa ternyata ia telah terjangkit penyakit ini, terutama nifak yang bersifat lahiriah.
Apa itu nifak? Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Katsir, nifak adalah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan. Sementara itu, Ibnu Juraij mengatakan, “Orang munafik ialah orang yang omongannya menyelisihi tindak-tanduknya, batinnya menyelisihi lahiriahnya, tempat masuknya menyelisihi tempat keluarnya, dan kehadirannya menyelisihi ketidakadaannya” (‘Umdah At-Tafsir I/78).
Huzhaifah bin Al-Yaman adalah seorang pemegang rahasia Nabi. Beliau pernah diberi tahu nabi nama-nama orang munafik. Oleh sebab itu, karena Umar bin Al-Khattab amat sangat khawatir terhadap sifat nifak, beliau memberanikan diri bertanya pada Huzhaifah apakah Nabi mengkategorikannya sebagai orang munafik, maka Huzhaifah pun menjawab, “Tidak. Setelahmu, aku tidak mau lagi memberi rekomendasi.”
Dikisahkan bahwa sebagian sahabat biasa berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya hamba memohon perlindungan dari khusyuknya nifak.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud khusyuk nifak?” Jawabnya, “Tubuh yang terlihat khusyu’ namun ternyata hati tidak.”
Ibnu Abi Malikah pernah mengatakan, “Aku telah menjumpai tiga puluh sahabat Nabi, seluruhnya takut akan nifak. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengatakan, bahwa dirinya memiliki iman seperti imannya Jibril dan Mikail.
Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, “Tidak ada orang merasa aman dari sifat nifak kecuali orang munafik dan tidak ada orang yang merasa khawatir terhadapnya kecuali orang mukmin.”
Demikian Tulisan kali ini Semoga kita di jauhkan dari penyakit nifak atau munafik Aamiin.
Semoga Bermanfaat.
Wassalamu'alaikum wr. Wb.
Selasa, 25 Desember 2018
HATI-HATI ISTIDRAJ
Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
Pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang beberapa bentuk dari Istidraj.
Jebakan Berupa Limpahan Rezeki
Tidak Shalat, Tapi Penghasilan Berlipat
Tidak Puasa, Tapi Rumah Banyak Bertingkat
Tidak Bayar Zakat, Tapi Selalu Naik Pangkat
Tidak Tutup Aurat, Tapi Bisnis Meningkat
Tidak Shalat, Tapi Penghasilan Berlipat
Tidak Puasa, Tapi Rumah Banyak Bertingkat
Tidak Bayar Zakat, Tapi Selalu Naik Pangkat
Tidak Tutup Aurat, Tapi Bisnis Meningkat
Bisa jadi ada yang mendapatkan limpahan rezeki namun ia adalah orang yang gemar maksiat. Ia tempuh jalan kesyirikan dan benar ia cepat kaya. Ketahuilah bahwa mendapatkan limpahan kekayaan seperti itu bukanlah suatu tanda kemuliaan, namun itu adalah istidraj. Istidraj artinya suatu jebakan berupa kelapangan rezeki padahal yang diberi dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah.
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ
“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad )
Banyaknya nikmat atau kurangnya nikmat duniawi yang diterima seorang hamba bukanlah menjadi ukuran bahwa Allah ta'ala telah memuliakannya dibanding yang lainnya. Bahkan bisa jadi, banyaknya nikmat duniawi justru dapat menjadikan seseorang lupa akan hakikat penciptaannya.
Allah ta'ala dalam firman-Nya menyindir orang-orang yang menyangka bahwa keberadaan nikmat adalah ukuran kemuliaan seseorang di hadapan-Nya.
Allah ta'ala berfirman, "Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku". Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". Sekali-kali tidak (demikian)."
(QS. Al-Fajr: 15-17)
(QS. Al-Fajr: 15-17)
Artinya, tidak semua orang yang Allah karuniakan nikmat dan lapangkan rezeki untuknya, Allah memuliakannya. Tidak pula setiap orang yang Allah timpakan ujian kepadanya dan sempitkan rezekinya Allah kemudian menghinakannya. Bahkan sejatinya, Allah ta'ala akan mengujinya dengan kenikmatan dan Allah muliakan yang lainnya dengan ujian.
Peluang terjatuhnya seorang mukmin dalam istidraj juga selalu terbuka. Mungkin bukan dengan bentuk bergelimangnya nikmat secara langsung, tetapi dalam bentuk lainnya.
Tidakkah kita merasakan beratnya sebuah ketaatan? Tidakkah kita merasa lemah di hadapan hawa nafsu dan syahwat? Tidakkah kita merasa ringan untuk berghibah, namimah dan dusta? Tidakkah kita merasa berat untuk menghadiri shalat berjamaah di masjid? Tidakkah kita tersibukkan pada hal yang tidak bermanfaat dan menghabiskan waktu? Hukuman mana yang lebih banyak dari itu? Sungguh, ini semua adalah tipuan. Bisa jadi, semua ini adalah bentuk hukuman dari Allah ta'ala, hukuman sebagai bentuk istidraj dari-Nya.
Maka dari itu, kita perlu introspeksi diri sejak saat ini. Jika saat ini kita diberikan kemudahan dalam hal rezeki, karier, kecemerlangan dalam berfikir, kelapangan dalam hidup, maka selain mengucap syukur kepada Allah ta'ala, kita pun tetap perlu waspada.
Apakah benar ini sebuah ni’mah (kenikmatan) ataukah sebuah niqmah (malapetaka)?
Abu Hazim Salamah bin Dinar Al-A’raj rahimahullah berkata, “Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah petaka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Asy-Syukr Lillah).
Demikian tulisan saya kali ini. Jazakumullohu Khoiron Katsiron.
Semoga Bermanfaat
Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
Senin, 24 Desember 2018
PENDAPAT PARA ULAMA MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Menjelang perayaan Natal seperti ini, biasanya muncul
perdebatan di tengah masyarakat tentang hukum seorang Muslim mengucapkan
selamat Natal kepada umat Kristiani atau siapa saja yang memperingatinya. Tidak
jarang, perdebatan itu menimbulkan percekcokan, bahkan vonis kafir (takfîr).
Untuk menjawab hukumnya, saya akan mengupasnya dalam
beberapa poin.
Pertama, tidak ada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang secara
jelas dan tegas menerangkan keharaman atau kebolehan mengucapkan selamat Natal.
Padahal, kondisi sosial saat nabi Muhammad shallallahu ’alaihi
wasallam hidup mengharuskannya mengeluarkan fatwa tentang hukum ucapan
tersebut, mengingat Nabi dan para Sahabat hidup berdampingan dengan orang
Yahudi dan Nasrani (Kristiani).
Kedua, karena tidak ada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang
secara jelas dan tegas menerangkan hukumnya, maka masalah ini masuk dalam
kategori permasalahan ijtihadi yang berlaku kaidah:
لَا يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيْهِ وَإِنَّمَا يُنْكَرُ
الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ
Permasalahan yang masih diperdebatkan tidak boleh diingkari
(ditolak), sedangkan permasalahan yang sudah disepakati boleh diingkari.
Ketiga, dengan demikian, baik ulama yang mengharamkannya
maupun membolehkannya, sama-sama hanya berpegangan pada generalitas (keumuman)
ayat atau hadits yang mereka sinyalir terkait dengan hukum permasalahan ini.
Karenanya, mereka berbeda pendapat.
Pertama, sebagian ulama, meliputi Syekh Bin Baz, Syekh Ibnu
Utsaimin, Syekh Ibrahim bin Ja’far, Syekh Ja’far At-Thalhawi dan sebagainya,
mengharamkan seorang Muslim mengucapkan selamat Natal kepada orang yang
memperingatinya.
Mereka berpedoman pada beberapa dalil, di antaranya: Firman
Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-Furqan ayat 72:
وَالَّذِينَ
لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ
مَرُّوا كِرَامًا
Artinya: “Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian
palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan
perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga
kehormatan dirinya.”
Pada ayat tersebut, Allah subhanahu wa
ta’ala menyebutkan ciri orang yang akan mendapat martabat yang tinggi di
surga, yaitu orang yang tidak memberikan kesaksian palsu. Sedangkan, seorang
Muslim yang mengucapkan selamat Natal berarti dia telah memberikan kesaksian
palsu dan membenarkan keyakinan umat Kristiani tentang hari Natal. Akibatnya,
dia tidak akan mendapat martabat yang tinggi di surga. Dengan demikian,
mengucapkan selamat Natal hukumnya haram.
Di samping itu, mereka juga berpedoman pada hadits riwayat
Ibnu Umar, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
"Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk
bagian kaum tersebut." (HR. Abu Daud, nomor 4031).
Orang Islam yang mengucapkan selamat Natal berarti
menyerupai tradisi kaum Kristiani, maka ia dianggap bagian dari mereka. Dengan
demikian, hukum ucapan dimaksud adalah haram.
Kedua, sebagian ulama, meliputi Syekh Yusuf Qaradhawi, Syekh
Ali Jum’ah, Syekh Musthafa Zarqa, Syekh Nasr Farid Washil, Syekh Abdullah bin
Bayyah, Syekh Ishom Talimah, Majelis Fatwa Eropa, Majelis Fatwa Mesir, dan
sebagainya membolehkan ucapan selamat Natal kepada orang yang memperingatinya.
Mereka berlandaskan pada firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Surat
Al-Mumtahanah ayat 8:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ
لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ
يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ
تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ
Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan
berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak
(pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang berlaku adil.”
Pada ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala tidak
melarang umat Islam untuk berbuat baik kepada siapa saja yang tidak
memeranginya dan tidak mengusirnya dari negerinya. Sedangkan, mengucapkan
selamat Natal merupakan salah satu bentuk berbuat baik kepada orang non Muslim
yang tidak memerangi dan mengusir, sehingga diperbolehkan.
Selain itu, mereka juga berpegangan kepada hadits
Nabi shallallahu ’alaihi wasallam riwayat Anas bin Malik:
كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ
لَهُ: أَسْلِمْ. فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ
عِنْدَهُ، فَقَالَ لَهُ: أَطِعْ
أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ. فَأَسْلَمَ. فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: (الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ
النَّارِ) ـ
“Dahulu ada seorang anak Yahudi yang senantiasa melayani
(membantu) Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian ia sakit. Maka,
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendatanginya untuk menjenguknya,
lalu beliau duduk di dekat kepalanya, kemudian berkata: “Masuk Islam-lah!” Maka
anak Yahudi itu melihat ke arah ayahnya yang ada di dekatnya, maka ayahnya
berkata:‘Taatilah Abul Qasim (Nabi shallallahu 'alaihi wasallam).” Maka
anak itu pun masuk Islam. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam keluar seraya bersabda: ”Segala puji bagi Allah yang telah
menyelamatkannya dari neraka.” (HR Bukhari, No. 1356, 5657)
Menanggapi hadits tersebut, ibnu Hajar berkata: “Hadits ini
menjelaskan bolehnya menjadikan non-Muslim sebagai pembantu, dan menjenguknya
jika ia sakit”. (A-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, juz 3,
halaman 586).
Pada hadits di atas, Nabi mencontohkan kepada umatnya untuk
berbuat baik kepada non-Muslim yang tidak menyakiti mereka. Mengucapkan selamat
Natal merupakan salah satu bentuk berbuat baik kepada mereka, sehingga
diperbolehkan.
Dari pemaparan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa para
ulama berbeda pendapat tentang ucapan selamat Natal. Ada yang mengharamkan, dan
ada yang membolehkan. Umat Islam diberi keleluasaan untuk memilih pendapat yang
benar menurut keyakinannya. Maka, perbedaan semacam ini tidak boleh menjadi
konflik dan menimbulkan perpecahan.
Jika mengucapkan selamat Natal diperbolehkan, maka menjaga
keberlangsungan hari raya Natal, sebagaimana sering dilakukan Banser, juga
diperbolehkan. Dalilnya, sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu
anhu menjamin keberlangsungan ibadah dan perayaan kaum Nasrani Iliya’
(Quds/Palestina):
هَذَا مَا أَعْطَى عَبْدُ
اللهِ عُمَرُ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ
أَهْلَ إِيْلِيَاءَ مِنَ الْأَمَانِ: أَعْطَاهُمْ
أَمَانًا لِأَنْفُسِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ وَكَنَائِسِهِمْ وَصَلْبَانِهِمْ وَسَائِرِ مِلَّتِهَا، لَا تُسْكَنُ كَنَائِسُهُمْ،
وَلَا تُهْدَمُ.
“Ini merupakan pemberian hamba Allah, Umar, pemimpin kaum
Mukminin kepada penduduk Iliya’ berupa jaminan keamanan: Beliau memberikan
jaminan keamanan kepada mereka atas jiwa, harta, gereja, salib, dan juga
agama-agama lain di sana. Gereja mereka tidak boleh diduduki dan tidak boleh
dihancurkan.” (Lihat: Tarikh At-Thabary, Juz 3, halaman 609)
sumber : Ustadz Husnul Haq, Dosen IAIN Tulungagung dan Wakil Ketua
Forum Kandidat Doktor NU Malaysia.
Demikian dan Semoga Bermanfaat.
Wasaalamu'alaikum Wr. Wb.
Https://dakwahmotivasihijrah.blogspot.com
BUKAN SEKEDAR UCAPAN SELAMAT
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Dalam sholat mungkin kita sering membaca firman Allah:
.
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ
﴿١﴾ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ﴿٢﴾
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ
كُفُوًا أَحَدٌۢ ﴿٤
.
Artinya:
1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala
sesuatu
3). Dia (Allah) tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia
.
Lalu pantaskah lidah yang kita gunakan untuk membaca
ayat-ayat tauhid tersebut kita gunakan untuk mengucapkan.
"Selamat atas kelahiran anak Tuhan'' ?????
.
Sekali-kali tidak...
Lidah yang kita pakai untuk melafadzkan ayat-ayat tauhid sangat tidak pantas kita gunakan untuk
mengucapkan kata-kata syirik tersebut.
.
Bila ada yang mengatakan, "Kan hanya sekedar
basa-basi..!?"
Mari kita jawab "Maaf, tidak ada basa-basi dalam perkara
kesyirikan".
"Berarti anda tidak toleran".
Jawablah dengan tegas "Anda ini bagaimana, di negeri mayoritas muslim seperti di negeri entah berantah mereka bebas membunyikan lonceng,
merayakan natal dan sejumlah ritual keagamaan lainnya. apa masih
kurang..?"
.
" Bagimu agamamu, bagiku agamaku"..
sumber : Ustadz Aan Candra Thalib حفظه
الله تعالى
Demikian ulasan singkat mengenai larangan mengucapkan selamat natal.
Untuk lebih lengkapnya silahkan baca disini artikel selanjutnya.
Terima Kasih.
Terima Kasih.
Wasaalamu'alaikum Wr.Wb.
Jumat, 21 Desember 2018
Keutamaan Dzikir dengan Jari Tangan Kanan

DZIKIR
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Dalam tulisan kali saya akan memberikan pembahasan mengenai keutamaan Dzikrullah atau berdzikir kepada ALLAH SWT, menggunakan jari tangan sebelah kanan.
Teknis dzikir yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menghitung dengan jari dan bukan dengan bantuan alat, seperti kerikil atau tasbih.
Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,
رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُهُنَّ بِيَدِهِ
“ Saya melihat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghitung dzikir beliau dengan tangannya.” (HR. Ahmad 6498 dan dinilai hasan oleh Syuaib Al-Arnauth).
Lebih utama berdzikir dengan jari-jemari, yang digunakan adalah tangan kanan. .
Dari Yusairah seorang wanita Muhajirah, dia berkata,
Dari Yusairah seorang wanita Muhajirah, dia berkata,
قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّقْدِيسِ وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَة
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kami:
“ Hendaknya kalian bertasbih (ucapkan subhanallah), bertahlil (ucapkan laa ilaha illallah), dan bertaqdis (menyucikan Allah), dan hitunglah dengan ujung jari-jemari kalian karena itu semua akan ditanya dan diajak bicara (pada hari kiamat), janganlah kalian lalai yang membuat kalian lupa dengan rahmat Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3583 dan Abu Daud no. 1501 dari hadits Hani bin ‘Utsman dan dishahihkan Adz Dzahabi. Sanad hadits ini dikatakan hasan oleh Al Hafizh Abu Thohir)
Demikian penjelasan singkat dari saya, setelah membaca tulisan diatas semoga kita bisa lebih baik lagi dalam bedzikir.
Semoga Bermanfaat.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
11 Amalan Istimewa di Hari Jum'at
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.
Dalam tulisan kali saya akan memberikan pembahasan mengenai 11 amalan-amalan istimewa di hari Jum’at yang penuh berkah yang bisa dimanfaatkan oleh setiap muslim sebagai tabungan pahala baginya di hari kiamat yang hanya bermanfaat amalan.
Di hari Jumat, selain kewajiban bagi seorang laki-laki muslim untuk menjalankan shalat Jumat, ada banyak amalan lain yang bisa dikerjakan. Amalan-amalan tersebut merupakan ibadah sunnah.
Apa saja amalan tersebut? Berikut ini adalah 11 amalan yang bisa dilakukan di hari jumat:
1. Membaca Surat Al-Kahfi
Membaca surat Al-Kahfi bisa dilakukan pada awal hari Jumat yaitu pada Kamis malam, tepatnya setelah masuk waktu maghrib.Diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka Allah akan menyinarinya dengan cahaya di antara dua Jumat.”(HR Hakim dalam Al-Mustadrok)
2. Memperbanyak Dzikir
Dzikir adalah mengingat Allah. Walaupun bisa dikerjakan setiap hari di waktu kapan saja, namun ada baiknya diperbanyak atau ditingkatkan pada hari jumat. Anjuran ini tercantum dalam al Qur’an surat Al Jumu’ah ayat 9:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian diseru untuk shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah…”
3. Memperbanyak Doa


Di hari Jumat, kita juga disunnahkan untuk memperbanyak doa. Anjuran ini sesaui hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang menyebut bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut hari Jumat kemudian berkata, “Di hari Jumat itu terdapat satu waktu yang jika seseorang muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.” Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu. (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Memperbanyak Shalawat
Shalawat itu bisa kita lakukan kapan saja dan dimana saja, baik pagi, siang, sore, ataupun malam. Kita bahkan sangat dianjurkan untuk bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi, pada hari Jum’at, alangkah indahnya jika kita menambah shalawat kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat kepadaku di dalamnya, karena shalawat kalian akan disampaikan kepadaku”. Para sahabat berkata, “Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?” Nabi bersabda,“Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An Nasa-i)
5. Mandi Wajib
Walaupun kita setiap hari mandi, di hari Jum’at, ada sunnah yang sama, yaitu mandi juga. Tapi tentu mandinya beda, dengan niat akan mandi Jum’at. Seperti yang ada dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at, maka ia mandi seperti mandi janabah…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan ada sebagian ulama yang menjadikan mandi Jum’at ini wajib hukumnya. Hal ini berdasarkan sebuah hadits dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Mandi pada hari Jum’at adalah wajib bagi setiap orang yang telah baligh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
6. Memakai Pakaian Terbaik
Anjuran ini terkait erat dengan perintah shalat Jumat. Ketika sholat muslim menghadapkan dirinya pada Allah. Maka sepantasnyalah ia tampil dengan pakaian terbaiknya.
Nabi SAW bersabda, “Wajib bagi kalian membeli dua buah pakaian untuk shalat Jumat, kecuali pakaian untuk bekerja” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al Albani)
7. Membersihkan Diri dan Menggunakan Minyak Wangi
Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu shalat sesuai dengan kemampuan dirinya, dan ketika imam memulai khutbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jumat ini sampai Jumat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis diatas menunjukan anjuran yang perlu dilakukan ketika akan menegrjakan shalat Jumat. Bukan hanya mandi dan berpakaian terbaik, tapi juga disempurnakan dengan wewangian. Sesungguhnya Allah menyukai kebersihan dan keindahan.
8. Tidak Duduk dengan Memeluk Lutut
Ada sebuah larangan yang disampaikan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis hasan yang diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi dari Sahl bin Mu’adz bin Anas. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW melarang Al Habwah (duduk sambil memegang lutut) ketika sedang mendengarkan khatib berkhutbah. Maka, menghindarkan diri dri prilaku yang dilarang tersebut pun bisa menjadikan sebuah amal ibadah.
9. Memperbanyak Shalat Sunnah Sebelum Khatib Naik Mimbar
Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah SAWbersabda, “Barangsiapa yang mandi kemudian datang untuk shalat Jumat, lalu ia shalat semampunya dan dia diam mendengarkan khutbah hingga selesai, kemudian shalat bersama imam, maka akan diampuni dosanya mulai Jumat tersebut sampai Jumat berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)
Selain memperbanyak shalat sunnah ketika khatib belum naik ke atas mimbar, hadits di atas juga menunjukkan bahwa berbicara saat khatib sedang berkutbah itu dilarang. Maka, jamaah yang melaksanakan shalat Jumat wajib untuk mendengarkan.
10. Menyegerakan Berangkat ke Masjid
Bersegera ke masjid merupakan salah satu sunnah yang bisa kita lakukan di hari Jumat.
Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju sholat Jumat dan tidur siang setelah shalat Jumat” (HR. Bukhari).
11. Melaksanakan Shalat Sunnah Setelah Shalat Jumat
Sama seperti shalat wajib lainnya, ada juga shalat sunnah yang mengiringi shalat Jumat. Shalat sunnah setelah shalat Jumat dilakukan dua rakaat atau empat rakaat.
Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kalian telah selesai mengerjakan shalat Jumat, maka shalatlah 4 rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata, “Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka shalatlah 2 rakaat di masjid dan 2 rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)
Amalan sunnah yang sering dianggap hal kecil atau sepele dan seringkali diabaikan itu ternyata bisa membuahkan pahala. Maka dengan mengerjakannya akan bertambah pula kebaikan bagi diri kita.
Semoga Bermanfaat.Wassalamu'alaikum Wr. Wb
Artikel : https://dakwahmotivasihijrah.blogspot.com/
Langganan:
Komentar (Atom)






